![]() |
![]() | ||
|
7 Steps Transformation of CPM Is
Better Way to Execute Your Strategy
By Mohamad Soleh (Konsultan di AIDA Consultant)
Balanced Scorecard (BSC) yang mulai
diterapkan oleh beberapa perusahaan besar Indonesia awal tahun 2000an, ternyata
banyak yang tidak membuahkan hasil. Bahkan ada beberapa perusahaan swasta dan
BUMN di Jakarta berkomentar kepada kami, “ Pak mohon jangan sebut-sebut BSC di
kami, kami trauma, sudah habis ratusan juta bahkan milyaran, waktu……., energi
dan banyak lagi lain, namun tidak ada hasilnya apa-apa. Kami kapok!!!!” .
Hmm…..dalam hati saya berkomentar, sepertinya ada beberapa hal yang menjadikan
mereka tidak dapat menjalankan BSC, khususnya perusahaan di Indonesia.
Dari hasil komentar dan keluhan para eksekutif dari beberapa
perusahaan tersebut, kami menganalisa dan menggali akar permasalahannya. Ternyata,
kami menemukan bahwa ada beberapa factor penyebabnya, yaitu antara lain :
1. Balanced Scorecard yang biasanya
dimplementasikan oleh perusahaan-perusahaan tersebut cenderung hanya dataran
level Manager ke atas saja. Tentunya, tidak semua pejabat level Manager (dan
keatas) di Indonesia yang memiliki kemampuan transfer dan delegating yang baik,
sehingga banyak diantara mereka yang tidak
mampu menurunkan KPI level Corporate nya menjadi KPI level Dept, level section
hingga level individu. Padahal ujung tombak pelaksana kebijakan ada
pada level kepala Seksi atau supervisor yang mengarahkan para staf dan
pelaksananya dalam mengeksekusi strategi perusahaan tersebut. Inilah “Gap”
terbesar yang dialami oleh perusahaan. Sehingga ada komentar yang senada dari
beberapa Direktur dan Manager pada perusahaan yang berbeda, bahwa pada intinya
bahwa perusahaan mereka sudah punya Strategy Map, KPI level Corporate, lalu
telah menetapkan Strategy Initiative-nya. Namun yang terjadi adalah, setelah 3
bulan tersusun, tak ada progressnya sama sekali. Yang ada hanya keluhan dari
para Managernya bahwa BSC ini hanya menambah kerjaan saja dan beban baru bagi
para manager dalam implementasinya. Sehingga mereka lebih memilih tidak
menjalankannya. Bahasa sederhananya adalah, system BSC yang telah diterapkan
belum mampu menerjemahkan bahasa strategis menjadi bahasa operasional hingga ke
level pelaksana.
2. Start form the scratch
Semenjak booming nya BSC di Inodonesia diaawal tahun 2000an, banyak
executive dan professional yang tertarik mempelajarinya. Bahkan sepengetahuan
saya, beberapa pimpinan perusahaan mencoba menerapkan BSC dengan cara yang umum
dilakukan oleh kebanyakan perusahaan di Indonesia, yaitu Trial & Error.
Bahkan di lapisan kedua mereka, yaitu para Managernya diminta menyusun atau
memilih KPI dari berbagai sumber (start from the scratch). Akhirnya apa yang
terjadi? KPI yang terpilih dan dilaporkan setiap bulannya kecenderungan
merupakan KPI yang “asal ambil” . jadi bukan merupakan KPI yang strategis dan
merepresentatifkan Key Result Area dari Strategy Map nya perusahaan. Bayangkan,
sudah capek-capek mencari datanya, menghitungnya dan melaporkan ke pimpinan
setiap bulannya, ternyata tidak mengindikasikan keberhasilan kinerja yang
dicanangkan perusahaan. Wajar saja banyak yang merasa adanya KPI malah menambah
beban kerja tanpa memberikan perbaikan yang berkelanjutan.
3. Persepsi yang berbeda terhadap KPI
dan formula perhitungannya
Nama KPI disarankan berbahasa Inggris. Hal ini dikarenakan adanya naming
convention yang berlaku, atau lebih baik namanya tetap berbahasa Inggris,
karena kesulitan dalam penerjemahan dan atau kurang “pas” terjemahannya, serta
adanya kepentingan untuk Benchmarking antar KPI dengan perusahaan sejenis di
Negara lain. Disisi lain, KPI-KPI tersebut disusun atau dipilih --biasanya-- oleh konsultan atau para Direktur dan
Manager. Namun –biasanya juga-- dalam pengumpulan data dan perhitungannya
dilakukan oleh staf/supervisor mereka, tanpa ada penjelasan tertulis yang
lengkap. Apa yang terjadi? Secara ilmu komunikasi dan psikologi bahwa manusia
cenderung akan mengalami Distortion communication, Deletion dan Generalization
atas informasi yang dia serap. Nah, akhirnya KPI yang dimaksudkan oleh
konsultan atau Direktur-Managernya cenderung dipersepsikan berbeda oleh staf dan
supervisornya. Akhirnya, --lagi-lagi-- .. sudah capek-capek mencari datanya,
menghitungnya dan melaporkan ke pimpinan ternyata tidak terpakai. Karena ada
salah persepsi dan salah dalam menngumpulkan data ataupun perhitungannya.
4. Ada beberapa pejabat selevel
Direktur mengeluh kepada saya, bahwa perusahaannya sudah menggunakan BSC bahkan
sudah didukung software nya. Namun, tidak ada perubahan growth yang berarti.
Sehingga hampir tak ada bedanya –dari sisi kinerja dan perilaku pegawai--,
antara sebelum menggunakan BSC dengan setelah menggunakan BSC. Padahal biaya
dan usaha yang dilakukan lumayan besar (sekitar 1-2 Milyar). Setelah saya
melakukan analisa lebih dalam bersama beliau. Kesimpulannya adalah strategic
Initiative yang disusun oleh mereka tidak menutup kesenjangan pencapaian
kinerja (closing the gap of performance) dan
cenderung hanya merupakan program-program aktivitas yang mengulang dari tahun
sebelumnya (repetition activities of last
year).Jadi wajar saja bila tidak ada perubahan yang berarti. Karena tidak
ada proyek perbaikan khusus yang berusaha menutup kesenjangan tersebut.
5. PDCA Cycle Review yang tidak
berjalan layaknya mesin otomatis.
Layaknya seperti penerapan system management lainnya yang terjadi di
perusahaan-perusahaan Indonesia, yaitu ada anekdot “dibuatkan system untuk
tidak dijalankan”. Ada beribu alasan yang menjadi momok bagi para Manger
tersebut untuk tidak menggunakan sistem. Semisal, tidak ada komitmen dari Top
Management, KPI yang terpilih tidak merepresentasikan kinerja department
terkait, KPInya masih di tangan Manager, para pemimpin perusahaan sangat sibuk
dengan proyek-proyek lainnya sehingga tidak sempat “menagih” laporan PDCA
pencapaian KPI timnya, level supervisor dan staf tidak tahu apa-apa tentang
pelaksanaan strategy management tersebut, tidak ada keputusan tertulis (SK atau
Memorandum) yang menegaskan tentang pelaksanaan system tersebut, dan masih
banyak lagi alasan lainnya.
Berpijak dari 5 permasalahan
terbesar itulah, maka Darmin Ahmad Pella bersama para konsultan AIDA telah
menerapkan 7 langkah transformasi Corporate Performance Management dalam
membantu puluhan perusahaan dalam
meningkatkan kinerja korporasi mereka.
Penjelasan umum dari 7 langkah
transformasi Corporate Performance Management ini adalah sebagai berikut:
1. Reinventing
Vission - Mission Statement :
Tahapan awal ini perusahaan dipandukan untuk menata ulang
arah misi dan visi perusahaan di masa depan berdasarkan analisis strategis
dengan menggunakan beberapa tools seperti 7S Mckinsey, Potter 5 Forces, SWOT,
PESTLE dan tehnik lainnya. 2. Develop
Corporate Scorecard :
Tahap kedua, AIDA Consultant membantu proses artikulasi visi
ke dalam bahasa operasional untuk menjawab tujuan strategik, indikator
keberhasilan visi dan targetnya.
3. KPI Tree :
Tahap ketiga, AIDA Consultant membantu dalam memastikan
seluruh unit organisasi dan pemegang jabatan memiliki KPI unik sesuai
tanggungjawab masing-masing untuk mencapai corporate scorecard, melalui proses penyelarasan KPI top-down /
bottom-up di setiap unit organisasi dan level
4. KPI Description :
Tahap keempat, AIDA Consultant membantu perusahaan dalam
memastikan kejelasan setiap KPI dan penetapan target yang menantang (stretching
target) untuk menjamin terjadinya peningkatan kinerja. KPI Deskription inilah
yang menjadi media komunikasi dan coaching berbasis sistem dari pimpinan kepada
anak buahnya dalam upaya mencapai target KPI dan tehnik perhitungan KPI
reporting nya. 5. Performance Appraisal based on KPI &
Competency :
Tahap kelima, AIDA Consultant membantu perusahaan dalam
mengimplementasikan sistem Penilaian Kinerja KPI & Competence Based
Performance Appraisal untuk mengevaluasi sejauh mana karyawan telah
berkontribusi mencapai target KPInya dan menghubungkannya dengan sistem
kompensasi karyawan
6. Improvement Action Plan :
Tahap Keenam, AIDA Consultant membantu perusahaan dalam
memastikan seluruh pemegang jabatan memiliki Rencana Kerja Perbaikan
(improvement action plan) mencapai target KPI-nya, mendukung rencana kerja unit
organisasi di level yang lebih tinggi.
7. PDCA Progress Review Cycle :
Tahap ketujuh, AIDA Consultant membantu perusahaan dalam
memastikan berjalannya control & monitoring system dengan menggulirkan
aktifitas Progress Review Cycle menjadi praktek Company-Wide Review Cycle pada
setiap level menuju praktek operasional yang lebih baik .
Sehingga
dari ketujuh tahapan tersebut, AIDA Consultant membantu perusahaan dalam
penyusunan dokumen-dokumen seperti:
· Strategic analysis atas kondisi
perusahaan dalam persaingan
· Mision Statement berisikan
pernyataan misi dan visi perusahaan
· Corporate core values berupa
pernyataan nilai-nilai budaya perusahaan
· Competence Directory untuk tiap
level manajerial beserta indikator perilaku
· Strategy map & Corporate
scorecard yang relevan prioritas bisnis Anda saat ini
· Key Performance Indicator untuk
semua posisi manajerial di perusahaan
· KPI Description dari ratusan
KPI khusus untuk posisi manajerial di
perusahaan
· Competence & KPI Based
Performance Appraisal Form yang didesain unik sesuai posisi
· Improvement Action Plan berisi
Rencana kerja untuk mencapai KPI dan
targetnya
-------------------------------------------------------------------------------------------------- Mampukah Manajemen Kinerja Perusahaan Anda untuk: Kinerja
(performance) sebuah perusahaan sesungguhnya harus dikelola
dengan baik agar sistem manajemen kinerja yang diterapkan benar-benar
mampu untuk menurunkan biaya dan meningkatkan pendapatan (increase
revenue, decrease cost).Untuk mewujudkannya, AIDA Consultant memiliki
perangkat Manajemen Kinerja Perusahaan (Corporate Performance Management)
yang siap mentransformasi kinerja perusahaan Anda. Jangan lewatkan kesempatan
terbaik Anda untuk mengikuti SEMINAR CORPORATE PERFORMANCE
MANAGEMENT, Partisipan Seminar Investasi Untuk informasi dan pendaftaran, silakan hubungi:
“Saya menginginkan sejak lama menerapkan pay based on performance, dan berkat implementasi AIDA sekarang bisa menerapkannya” “Dengan bantuan AIDA, penilaian kinerja sekarang bagus, lebih fair, ada ukurannya, ada rumusnya, bukan hanya perasaan seperti selama ini” “Melalui transfrormasi manajemen kinerja, kita bisa melihat dengan jelas hubungan misi, visi, strategi, RKAP dan pekerjaan kita sehari-hari" “Terima kasih atas implementasi transformasi manajemen kinerja AIDA, sekarang kita berhasil melakukan penghematan-penghematan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya” "Implementasi transformasi manajemen kinerja membantu kami memenuhi persyaratan-persyaratan ISO" “Tugas utama saya untuk memperjelas arah dan mensinergikan seluruh bagian di dalam perusahaan ini selesai dengan bantuan AIDA” "Kita mendapatkan banyak ide apa yang bisa kita lakukan lebih efektif lagi. Menjadi lebih jelas ukuran-ukurannya, dan apa yang perlu kita bersama lakukan. Inilah yang akan jadi buku pintarnya perusahaan" “Dengan transformasi manajemen kinerja ini, sekarang direktur menjadi lebih jelas apa yang mau diminta pada para manajernya” “Di sini sebelumnya, antara yang malas dan rajin tidak ada beda kompensasi dan penghargaannya. Dengan transformasi manajemen kinerja, kondisi tersebut hilang. Yang memiliki semangat akan terbantu oleh sistem ini” “Selama ini kami tidak pernah duduk bersama memikirkan perusahaan. Melalui transformasi manajemen kinerja, mau tidak mau kita duduk bersama dan ini meningkatkan sinergi antar unit kerja di perusahaan ini“ “Dengan bekerja berdasar KPI, tugas kita lebih sulit, tetapi indikatornya lebih pasti. Memang begitulah seharusnya. Apalagi penyusunannya oleh kita sendiri bersama atasan” “Hanya dalam 8 hari konsultansi, kami mendapatkan misi dan visi, corporate scorecard, ratusan KPI untuk setiap pemegang jabatan sampai Department Head, sampai dengan rencana kerjanya. Luar biasa.” “AIDA memiliki kelebihan dalam hal mampu membantu perusahaan terjun sampai ke level bawah, tidak hanya di tataran konsep” “Sudah 15 tahun perusahaan kami berjalan tanpa sistem yang jelas dalam mengelola kinerja. Memutuskan mengundang AIDA segera menyelesaikan masalah kami” --------------------------------------------------------------------------------------------------
|
Download :
| ||
| � AIDA Consultant 2010 | Site developed by AIDA Services | |||