Era Mekanisasi & Tenaga Uap  

Serial Artikel : Simponi Evolusi Peran Manusia

ERA MEKANISASI & TENAGA UAP

PERUBAHAN 1: REVOLUSI INDUSTRI 1.0
(1760-an – 1840-an) 

Melompati Batas Fisik Manusia 

Jika era Pra-Industri adalah panggung keemasan bagi The Ultimate Craftsman yang bekerja lambat namun penuh jiwa, maka akhir abad ke-18 ini adalah masa keruntuhan seluruh tatanan tersebut. Lahirnya Revolusi Industri 1.0 (1760-an – 1840-an) didorong oleh satu tujuan tunggal yang pragmatis: Peningkatan Kuantitas Produk secara Massal demi Mengatasi Batasan Kapasitas Produksi Manusia

Tujuan proses produksi di masa Revolusi Industri 1.0 
Peningkatan Kuantitas Produk  
Produksi Masssal demi mengatasi batasan proses produksi manual.

Tujuan proses produksi di masa Revolusi Industri 1.0
Peningkatan Kuantitas Produk

Produksi massal demi mengatasi batasan proses produksi manual

Kecepatan tangan perajin dan kekuatan otot biologis tidak lagi mampu mengimbangi lonjakan permintaan pasar global yang digerakkan oleh ekspansi kolonial dan kapitalisme awal. Dunia membutuhkan standarisasi, kecepatan, dan replikasi massal. Kebutuhan inilah yang memicu lahirnya serangkaian penemuan mekanis revolusioner yang tidak hanya mengubah cara barang diproduksi, tetapi juga mengubah struktur sosial kemanusiaan secara permanen. 

Penemuan Utama Pemicu Revolusi

Lompatan mekanis ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan dipicu oleh beberapa penemuan kunci yang saling berkaitan: 

1. Spinning Jenny (James Hargreaves, Inggris, 1764): Sebuah mesin pemintal benang multi-spindle yang memungkinkan satu orang pekerja mengoperasikan hingga 8 spindel sekaligus (yang kelak berkembang hingga 120 spindel). Penemuan ini melipatgandakan produktivitas sektor tekstil dan meruntuhkan sistem pemintalan tradisional yang lambat. 

2. Water Frame (Richard Arkwright, Inggris, 1769): Mesin pemintal benang yang digerakkan oleh tenaga air. Mesin ini menghasilkan benang kapas yang jauh lebih kuat, halus, dan konsisten secara kualitas. Keberadaan mesin raksasa ini memaksa para pekerja berkumpul di satu tempat di dekat aliran air, yang memicu lahirnya sistem pabrik modern pertama di dunia (factory system) di Cromford pada tahun 1771. 

3. Mesin Uap (James Watt, Skotlandia, 1769): Inovasi mesin uap dengan kondensor terpisah yang jauh lebih efisien dan hemat bahan bakar dibanding versi Newcomen terdahulu. Penemuan ini merupakan "jantung" utama dari seluruh gerakan mekanisasi. Dengan beralih ke tenaga uap, pabrik tidak lagi harus didirikan di dekat sungai (sumber tenaga air), melainkan dapat dibangun di pusat-pusat perkotaan dan dekat pelabuhan, memicu urbanisasi besar-besaran. 

4. Power Loom (Edmund Cartwright, Inggris, 1785): Mesin tenun otomatis yang digerakkan oleh tenaga uap atau air. Penemuan ini mengintegrasikan seluruh rantai pasok industri tekstil dari benang hingga kain siap pakai secara mekanis, meningkatkan kecepatan produksi hingga puluhan kali lipat. 

5. Lokomotif Uap (George Stephenson, Inggris, 1814-1829): Alat transportasi bertenaga uap pertama di atas rel logam. Penemuan ini merevolusi sistem distribusi logistik. Bahan baku batubara dan kapas dapat dikirim ke pabrik dengan sangat cepat, sementara produk jadi dapat didistribusikan ke pelabuhan dalam skala tonase yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. 

6. Eksploitasi Batubara dan Besi secara Masif: Batubara menggantikan kayu sebagai energi primer untuk menggerakkan mesin uap, sedangkan inovasi peleburan besi menggunakan bahan bakar coke (turunan batubara) memungkinkan produksi besi murah dalam jumlah raksasa. Besi inilah yang menjadi bahan baku pembuatan mesin, rel, jembatan, dan persenjataan. 

Secara kolektif, rentetan penemuan ini membebaskan proses produksi dari ketergantungan musiman dan cuaca. Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal: degradasi peran manusia dari pencipta yang berdaulat menjadi pelayan mesin besi.

A. Realitas Industri 

Lanskap Global 

Pada masa ini, lanskap fisik Eropa (terutama Inggris) dan pantai timur Amerika Serikat berubah secara dramatis. Kota-kota industri baru seperti Manchester, Birmingham, dan Sheffield tumbuh seperti jamur di musim hujan. Langit kota-kota ini berubah menjadi kelabu, diselimuti oleh asap hitam pekat yang keluar dari ceraobong pabrik batubara—yang kemudian dikenal dengan istilah "the dark satanic mills"
Pabrik menjadi pusat gravitasi kehidupan sosial yang baru. Di dalam bangunan-bangunan bata merah yang lembap dan bising tersebut, ribuan mesin tenun dan pemintal meraung tanpa henti. Di sekeliling pabrik, tumbuh kawasan kumuh (slums) tempat tinggal para buruh yang berjubel dalam kondisi saniter yang mengerikan. Jam kerja ditentukan bukan lagi oleh terbit dan terbenamnya matahari, melainkan oleh peluit pabrik yang menjerit keras pada pukul 5 pagi, memaksa ribuan orang—termasuk wanita dan anak-anak—masuk ke dalam ruang produksi untuk bekerja selama 14 hingga 16 jam sehari. 

Lanskap Nusantara 

Sistem Manajemen Agraria Coercive  

Sementara Eropa dan Amerika Serikat merayakan kemajuan teknologi uap, Nusantara di bawah administrasi pemerintah kolonial Hindia Belanda pasca-runtuhnya VOC (awal abad ke-19) mengalami kenyataan yang jauh lebih kelam. Di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch, diperkenalkan sistem manajemen agraria koersif yang sangat brutal: Cultuurstelsel (Sistem Tanam Paksa, 1830-1870)

Keterkaitan antara kemajuan teknologi di Eropa dengan penderitaan di Nusantara sangatlah erat. Teknologi uap yang diadopsi di Eropa membutuhkan bahan baku dan modal finansial yang besar. Nusantara dipaksa menjadi ladang ekstraksi komoditas ekspor (kopi, tebu, nila) demi menutup kas negara Belanda yang kosong akibat Perang Diponegoro dan Perang Belgia. 

Katakteristik Industri 

Beberapa karakteristik industri dan kerja di Nusantara pada era RI 1.0 meliputi: 

  • Pabrik Gula Bertenaga Uap: Di sepanjang pesisir utara Jawa, mulai bermunculan pabrik pengolahan gula modern yang menggunakan mesin uap impor dari Eropa. Namun, transfer teknologi tidak terjadi. Buruh pribumi hanya digunakan sebagai unskilled labor untuk tugas-tugas berbahaya seperti menebang tebu di ladang dengan parang, memikul tebu di bawah terik matahari, atau mengumpan tebu ke dalam mesin gilingan raksasa tanpa alat pengaman. Posisi teknisi mesin dan administrasi seluruhnya dipegang oleh ekspatriat Eropa atau minoritas Tionghoa. 

  • Koelie Ordonnantie dan Poenale Sanctie: Sistem perburuhan di luar Jawa (terutama perkebunan tembakau Deli, Sumatra Utara) diatur melalui kontrak kerja paksa legal. Jika buruh (kuli) mencoba melarikan diri atau bekerja kurang produktif, mereka dikenakan sanksi pidana (poenale sanctie) berupa penyiksaan fisik, hukum cambuk, atau kurungan. 

  • Kerja Rodi (Corvée Labour): Selain dipaksa menanam komoditas ekspor, rakyat pribumi dipaksa melakukan kerja rodi untuk membangun infrastruktur pendukung industri kolonial—seperti pelabuhan, jembatan, dan jalur kereta api—dengan tangan kosong di bawah ancaman ujung bayonet. 

Secara kontras, kemajuan teknologi mekanis di belahan bumi Barat justru menjadi instrumen penindasan dan eksploitasi fisik yang lebih dalam di wilayah kolonial Nusantara. 

B. Evolusi Peran Manusia 

Pada era RI 1.0, peran manusia bergeser secara ekstrem dari The Ultimate Craftsman menjadi Pelayan Mesin Produksi (Machine Feeder). 

Dasar Pikiran 
“Mekanisasi uap membebaskan otot kasar manusia dari beban alam, namun sekaligus merantai jiwanya untuk tunduk pada ritme besi mekanis yang tak berdenyut. Manusia tidak lagi mencipta — Sekarang Manusia hanya melayani mesin.  

Era Evolusi Peran Manusia  
Awal mula degradasi ontologis ke Era Peran I (Kerja Fisik)

Posisi Peran Manusia 
Pelayan Mesin Produksi (Machine Feeder) 

Posisi Peran 

Transisi dari era Pra-Industri ke RI 1.0 menandai peristiwa degradasi ontologis pertama dalam sejarah manajemen. Manusia, yang semula menempati posisi sentral sebagai subjek otonom pembuat produk, secara dramatis diturunkan derajatnya menjadi bagian dari mesin produksi, seperti komponen mekanis belaka. Inilah awal Mula Degradasi Peran Kerja. 

Dampak dari pergeseran ini sangat mendalam secara psikologis dan sosiologis: 

  • Kehilangan Kedaulatan Kerja: Sumber kekuatan produksi tidak lagi berada pada keahlian tangan (craftsmanship) atau intuisi sang perajin, melainkan pada daya uap dan presisi roda gigi besi. Mesin menentukan kecepatan kerja, metode kerja, dan hasil akhir. Manusia hanya bertugas untuk mengimbangi kecepatan mesin tersebut. 

  • Alienasi (Keterkucilan) Kerja: Karl Marx dalam analisis sosialnya menguraikan bahwa di era pabrik ini, buruh mengalami keterasingan (alienation) yang parah. Mereka terasing dari produk yang mereka buat (karena mereka tidak memilikinya), terasing dari proses kerja (karena prosesnya ditentukan oleh mesin), terasing dari diri mereka sendiri (karena kapasitas berpikir mereka tidak digunakan), dan terasing dari sesama rekan kerja (karena interaksi sosial digantikan oleh isolasi bising ruang produksi). 

  • Reduksi Menjadi Fungsi Biologis Kasar: Di dalam sistem pabrik RI 1.0, keunikan kognitif (IQ), kepekaan estetika (EQ), dan dimensi spiritual (SQ) manusia dianggap tidak relevan. Yang dibutuhkan oleh pemilik modal hanyalah fungsi biologis motorik yang murah: mata untuk mengawasi benang putus, tangan untuk menyambungnya kembali, dan kaki untuk berdiri di depan mesin selama belasan jam. 

Dalam konteks evolusi kapasitas manusia, RI 1.0 adalah era di mana manusia direduksi menjadi sekadar "energi penggerak tambahan" yang bernyawa untuk menyempurnakan kekurangan teknis mesin-mesin awal. 

Perspektif Manajemen 

Manusia sebagai Bahan Bakar Biologis (Biological Fuel) 

Manajemen pabrik pada masa ini memandang manusia murni sebagai bahan bakar biologis yang murah dan mudah digantikan (expendable biological fuel). 

  • Pemberlakuan di Bawah Mesin: Perlakuan terhadap buruh sering kali lebih buruk daripada perlakuan terhadap mesin uap. Pemilik pabrik tahu bahwa mesin uap adalah aset mahal yang membutuhkan perawatan berkala agar tidak rusak. Sebaliknya, buruh adalah komoditas murah yang melimpah akibat urbanisasi masif. Jika seorang buruh sakit, cacat karena kecelakaan kerja, atau mati kelelahan, pemilik pabrik tinggal membuangnya dan merekrut buruh baru dari gerbang pabrik yang selalu dipenuhi oleh pengangguran kelaparan. 

  • Harapan Hidup yang Tragis: Friedrich Engels dalam bukunya The Condition of the Working Class in England (1845) mencatat statistik yang mengerikan: harapan hidup rata-rata seorang buruh pabrik di kota Manchester pada tahun 1840-an menyusut hingga hanya mencapai 17 tahun. Ini adalah bukti empiris tak terbantahkan bahwa manusia diperlakukan murni sebagai sumber daya ekstraktif yang diperas hingga habis energinya, lalu dibuang. 

Aktivitas Utama 

Tiga Transformasi Fundamental 

Revolusi Industri 1.0 membawa tiga transformasi struktural di tempat kerja yang melahirkan embrio ilmu manajemen personalia di Eropa dan Amerika Serikat: 

  • Deskilling Sistematis (Harry Braverman, 1974): Proses penghancuran keterampilan holistik perajin. Jika dahulu seorang pembuat sepatu harus menguasai puluhan teknik dari menyamak kulit hingga menjahit sol, kini proses tersebut dipecah menjadi tugas-tugas mikro yang sangat sederhana (misal: hanya memotong pola lembaran kulit saja). Hal ini sengaja dilakukan agar pabrik tidak bergantung pada tenaga kerja terampil yang mahal, melainkan bisa merekrut tenaga kerja murah (bahkan anak-anak) yang hanya butuh waktu latihan beberapa menit. 

  • Time Discipline (E.P. Thompson, 1967): Pergeseran paksa cara manusia memandang waktu. Pada era pra-industri, manusia bekerja mengikuti "waktu alam" (ritme panen, cuaca, pasang-surut air laut). Di era RI 1.0, manusia dipaksa tunduk pada "waktu mesin" (clock-time). Keterlambatan satu menit berarti denda potong upah yang mencekik. Manajemen waktu diterapkan secara ketat melalui: 

1. Pencatatan kehadiran manual (buku absensi kasar oleh pengawas). 

2. Pengawasan fisik yang ketat dan represif oleh mandor/pengawas pabrik (overseers) bersenjata cambuk atau denda. 

3. Upah harian tunai yang minim atau bahkan sistem pembayaran menggunakan kupon khusus (truck system) yang hanya bisa dibelanjakan di toko milik pemilik pabrik dengan harga yang sudah digelembungkan. 

4. Nol pelatihan keterampilan nyata, karena pekerja sengaja dijaga agar tetap tidak memiliki keahlian khusus agar mereka tidak memiliki posisi tawar untuk meminta kenaikan upah. 

  • Proletarianisasi Massal (Karl Polanyi, 1944): Hancurnya kemandirian ekonomi pedesaan akibat undang-undang pemagaran lahan (Enclosure Acts) memaksa jutaan mantan petani bermigrasi ke kota dan bertransformasi menjadi kelas baru: kaum proletar, yaitu kelas pekerja yang kehilangan alat produksinya sendiri dan terpaksa menjual tenaga fisik mereka demi bertahan hidup. 

Sistem Manajemen Manusia 

Lahir dari Air Mata dan Darah

Sangat penting untuk dicatat bahwa sistem administrasi personalia, regulasi ketenagakerjaan, dan hukum perburuhan awal tidak lahir dari rasa empati atau kesadaran moral para pemilik modal, melainkan lahir dari pertumpahan darah, tragedi kemanusiaan, dan ancaman revolusi sosial

Pemilik pabrik dan pemerintah pada saat itu melihat buruh hanya sebagai komponen mekanis hidup yang murah. Regulasi pembatasan jam kerja dan perlindungan ketenagakerjaan baru dipaksakan lahir melalui Factory Act 1833 di Inggris setelah kondisi kerja yang eksploitatif memicu: 

  • Tingkat kematian dan kecacatan anak-anak usia 5-10 tahun yang sangat tinggi akibat bekerja 14 jam membersihkan bagian dalam mesin pemintal yang sedang berjalan. 

  • Demonstrasi besar-besaran, kerusuhan sosial, dan sabotase mesin (Luddite movement) yang mengancam stabilitas politik dan ekonomi negara. 

  • Laporan-laporan publik yang mengguncang hati nurani masyarakat, seperti Sadler Committee Report, yang mendokumentasikan penyiksaan fisik dan kerusakan organ tubuh permanen pada anak-anak pekerja pabrik. 

Jadi, lahirnya sistem administrasi personalia awal dan kepatuhan hukum perburuhan legal (compliance) pada era RI 1.0 dipaksa oleh "darah" buruh yang mengalir di lantai-lantai pabrik, bukan karena kebaikan hati manajemen. 

C. Praktek Saat Ini 

(Konteks Indonesia Tahun 2026) 

Meskipun kita kini berada di tahun 2026—di mana dunia korporasi global gencar mendiskusikan implementasi Artificial Intelligence (AI), otomatisasi robotik, dan remote working—realitas manajemen era Revolusi Industri 1.0 ternyata masih hidup subur di berbagai sudut perekonomian Indonesia

Di tahun 2026 ini, pola kerja transaksional, eksploitasi fisik tanpa pengaman, dan sistem kontrol represif khas RI 1.0 masih dipraktikkan secara luas pada sektor-sektor berikut: 

1. Pabrik Genteng Tanah Liat Tradisional & Industri Batu Bata (Jawa Tengah/Jawa Barat): Para pekerja di industri ini masih mengoperasikan mesin cetak manual yang bising, mencampur tanah dengan kaki telanjang, dan memindahkan ribuan batu bata basah di bawah terik matahari. Upah mereka dihitung berdasarkan sistem borongan (piece-rate atau putting-out style modern), jaminan keselamatan kerja (K3) hampir nihil, dan kontrak kerja formal tidak pernah ada. 

2. Tambang Rakyat Skala Kecil (Tambang Emas, Batu Bara, atau Pasir Ilegal): Di daerah pedalaman Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, ribuan buruh harian lepas menggali tanah dengan linggis, menyelam ke sungai berarus deras tanpa alat bantu oksigen yang memadai, atau memanggul karung belerang seberat 80 kg di kawah gunung berapi. Mereka bekerja murni sebagai "bahan bakar biologis" dengan risiko kematian instan yang tinggi demi upah harian yang habis dalam satu hari. 

3. Penggergajian Kayu (Sawmill) dan Industri Pengolahan Batu Lokal: Di tingkat kecamatan, banyak usaha pemotongan kayu dan penghancur batu yang mempekerjakan buruh harian tanpa alat pelindung diri (APD) dasar seperti masker debu, kacamata pengaman, atau pelindung telinga dari kebisingan ekstrem pisau gergaji raksasa. Pengawasan dilakukan secara fisik oleh mandor pemilik usaha dengan ancaman pemecatan seketika jika produktivitas menurun. 

Faktor Pendukung 

Ada beberapa faktor struktural yang melanggengkan sistem purba ini di tengah modernisasi: 

  • Melimpahnya Unskilled Labour Surplus: Indonesia masih menghadapi masalah bonus demografi yang didominasi oleh angkatan kerja berpendidikan rendah. Melimpahnya pasokan tenaga kerja ini membuat nilai tawar buruh sangat lemah—persis seperti kondisi Manchester di era 1840-an. 

  • Lemahnya Penegakan Hukum (Regulatory Loophole): Sebagian besar sektor ini berada di bawah radar ekonomi informal, di mana pengawasan dari Dinas Tenaga Kerja sangat jarang menjangkau mereka. 

  • Efisiensi Biaya Jangka Pendek: Bagi pemilik usaha mikro dan kecil (UMKM), tidak menginvestasikan dana pada aspek K3, jaminan sosial (BPJS Ketenagakerjaan), dan pelatihan talenta dianggap sebagai cara paling instan untuk menekan biaya operasional (cost minimization) agar harga produk mereka tetap kompetitif di pasar lokal. 

Dampak Manajemen 

Penerapan manajemen era RI 1.0 ini menghambat dan berdampak negatif: 

  • Bagi Manajemen Perusahaan (Sisi Negatif): Pola manajemen gaya RI 1.0 ini menciptakan lingkaran setan produktivitas rendah (low-productivity trap). Karena pekerja diperlakukan sebagai komoditas murah yang mudah diganti, tingkat perputaran karyawan (turnover rate) sangat ekstrem. Manajemen tidak pernah memiliki memori organisasi yang kuat, kualitas produk tidak konsisten, dan inovasi operasional mustahil terjadi karena pekerja tidak memiliki ruang kognitif untuk memberikan masukan perbaikan. 

  • Bagi Kemajuan Ekonomi & Industri Nasional (Hambatan Makro): Keberadaan kantong-kantong industri bergaya RI 1.0 ini menahan laju transformasi Indonesia untuk keluar dari perangkap pendapatan menengah (middle-income trap). Industri nasional tidak dapat melompat ke sektor bernilai tambah tinggi (high-value added) jika fondasi tenaga kerjanya masih dieksploitasi pada kapasitas otot kasar dengan upah murah yang menjebak mereka dalam lingkaran kemiskinan struktural (working poor). 

Kerusakan Terhadap Praktek Fungsi HR 

Dalam lingkup praktis pengelolaan manusia, pemeliharaan pola RI 1.0 ini merusak fungsi HRM secara fundamental: 

  • Reduksi Peran HR Menjadi Sekadar "Polisi Absensi" & "Tukang Administrasi": Ketika pola ini bertahan, HR dipaksa kembali ke abad ke-19. Seluruh waktu, energi, dan kapasitas berpikir praktisi HR habis digunakan untuk urusan transaksional dasar—seperti menghitung potongan upah keterlambatan, mengurus birokrasi surat peringatan (SP), mencatat absensi fisik, dan menyelesaikan konflik fisik hubungan industrial. HR kehilangan peran strategisnya sebagai Business Partner

  • Kebuntuan Fungsi L&D (Learning & Development): Di bawah mentalitas RI 1.0, pelatihan karyawan dianggap sebagai "pemborosan biaya" (cost center) bukan "investasi" (investment). Mengapa harus melatih karyawan jika mereka dengan mudah bisa mengundurkan diri dan diganti dengan jutaan penganggur lainnya di luar gerbang perusahaan? Akibatnya, kapasitas kompetensi organisasi stagnan dan tidak pernah berkembang. 

  • Hancurnya Retensi Talenta & Hubungan Kerja yang Beracun (Toxic IR): Karena motivasi karyawan didorong oleh rasa takut (takut denda, takut dipecat) bukan oleh engagement atau purpose, tingkat komitmen karyawan berada di titik nadir. Ini menciptakan hubungan industrial yang transaksional-agresif. Begitu ada kesempatan, karyawan akan pergi, meninggalkan perusahaan dengan biaya rekrutmen berulang yang tinggi tanpa pernah membangun fondasi corporate culture yang sehat. 

Catatan Strategis 

Transisi dari era Pra-Industri yang mandiri menuju mekanisasi RI 1.0 adalah sebuah peringatan sejarah yang keras. Ketika teknologi baru diadopsi tanpa disertai dengan evolusi etis dalam memandang manusia, yang terjadi adalah bencana kemanusiaan dan hancurnya martabat kerja. 

Bagi para praktisi Human Capital modern di tahun 2026, pelajaran berharga dari RI 1.0 ini sangat krusial saat kita menghadapi disrupsi teknologi gelombang baru seperti Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi robotik tingkat lanjut. Jika kita mengulangi cara berpikir manajemen RI 1.0—yaitu memandang teknologi sebagai alat untuk sekadar melakukan pemangkasan biaya (cost cutting) dan melakukan deskilling sistematis pada manusia—maka kita sedang menciptakan era alienasi dan ketimpangan sosial baru yang tidak kalah mengerikan. 

Tantangan strategis kita hari ini adalah mengintegrasikan teknologi baru tersebut untuk meningkatkan kapasitas kemanusiaan (human augmentation), bukan mendegradasi peran manusia kembali menjadi sekadar sekrup murah di dalam mesin algoritma digital. Perjalanan evolusi ini akan semakin menarik saat kita melangkah ke Revolusi Industri 2.0, di mana tragedi kemanusiaan ini dikemas secara lebih ilmiah dan sistematis lewat kedok efisiensi gerak dan waktu (Taylorisme). 

M. A. Rizvi Kaluni


Senior Consultant & Commissioner

Rizvi helps companies grow by aligning 3 things: the Business, the Culture, and the Organization. As Senior Consultant & Commissioner at AIDA, he translates strategy into people systems that deliver results.


Daftar Referensi

Allen, R. C. (2009). The British Industrial Revolution in Global Perspective. Cambridge University Press. Cambridge, UK. 
Aspin, C. (1981). The Cotton Industry. Shire Publications. 
Braverman, H. (1974). Labor and Monopoly Capital: The Degradation of Work in the Twentieth Century. Monthly Review Press, New York, USA. 
Breman, J. (1989). Taming the Coolie Beast: Plantation Society and the Colonial Order in Southeast Asia. Oxford University Press, Oxford, UK. 
Engels, F. (1845). The Condition of the Working Class in England. Oxford University Press (edisi modern), Oxford, UK. 
Fitton, R. S., & Wadsworth, A. P. (1958). The Strutts and the Arkwrights. Manchester University Press. Manchester, UK. 
Landes, D. S. (1969). The Unbound Prometheus: Technological Change and Industrial Development in Western Europe from 1750 to the Present. Cambridge University Press. Cambridge, UK. 
Patent (1769). Dokumen Paten  di Science Museum, London. 
Polanyi, K. (1944). The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time. Farrar & Rinehart, New York, USA. 
Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia since c. 1200 (4th ed.). Palgrave Macmillan, London, UK. 
Rolt, L. T. C. (1960). George and Robert Stephenson: The Railway Revolution. Longman. London, UK. 
Schwab, K. (2017). The Fourth Industrial Revolution. World Economic Forum. Geneva, Switzerland. 
Thompson, E. P. (1967). Time, Work-Discipline, and Industrial Capitalism. Past & Present, 38(1), 56–97. Oxford University Press, Oxford, UK. 
Wrigley, E. A. (2010). Energy and the English Industrial Revolution. Cambridge University Press. Cambridge, UK. 

AIDA Consultant berkomitmen menghadirkan solusi manajemen strategis yang solutif, berbasis risiko, dan terukur demi mendorong efisiensi organisasi. Tingkatkan ketangguhan bisnis Anda dalam menghadapi dinamika pasar melalui program konsultasi, pelatihan, dan asesmen ahli kami.

Bertumbuhlah lebih kuat bersama AIDA Consultant sekarang.

Baca Juga :

Previous
Previous

Era Produksi Massal & Elektrifikasi

Next
Next

Era Swakarya